Kamis, 19 Mei 2011

Pejuang Ekonomi Islam

Assalamua'laikum wr. wb.

Apa kabar ekonom robbani hari ini?
“ Alhamdulillah.. Luarbiasa.. Dasyat.. AllahuAkbar!!”

          Sebagai sarana perjuangan da’wah ekonomi Islam, KSEI-KSEI yang ada di FoSSEI Regional Jawa Tengah mempunyai peran penting dalam pengembangan ekonomi Islam di dunia maupun Indonesia, khususnya wilayah Jawa Tengah. Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia sudah mulai terlihat jelas. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya lembaga-lembaga baru yang berbasis syariah, seperti Perbankan syariah, BMT, Asuransi syariah, dan Pasar modal syariah. Dari segi regulasi, kita dapat melihat peraturan perundang-undangan baru yang mengatur tentang lembaga syariah sudah semakin banyak. Sehingga tidak salah jika saya mengatakan bahwa tidak lama lagi sistem ekonomi Indonesia akan berubah menjadi harapan kita semua yaitu sistem ekonomi Islam. Hal ini merupakan sebuah tantangan dan peluang bagi FoSSEI Regional Jawa Tengah sebagai salah satu simpul – simpul kekuatan da’wah yang menyebar ke seluruh pelosok nusantara, sebagai satu kekuatan dari Regional FoSSEI yang tersebar di Indonesia.

          Namun demikian, impian besar ini tidak akan terwujud tanpa dukungan dari semua pihak, terutama kader-kader yang tersebar di jawa tengah maupun seluruh Indonesia. Diperlukan konsistensi atau keistiqomah-an kader dalam mewujudkan tegaknya ekonomi Islam di negeri ini. Oleh karena itu saudaraku sang pejuang ekonomi Islam, dalam perjuangan dakwah haruslah memiliki semangat militansi yang tinggi. Dan didalam artikel anomim yang berjudul "sebuah catatan tentang militansi" menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan tentang makna militansi ini.

1. Kefahaman
        Kefahaman yang kita maksud adalah kefahaman terhadap sebuah situasi, lingkungan da'wah kita, target-target kerja (da'wah) kita, perubahan yang ingin kita capai, peluang-peluang yang ada, siapa pendukung dan siapa lawan kita, dan aspek lapangan yang lain. Yang kedua adalah kefahaman kita terhadap ISLAM dan Da'wah itu sendiri. Bagaimana mungkin kita berjuang untuk sesuatu yang kita tidak mengerti. Kita perlu faham dengan karakteristik kerja da'wah, tidak tergesa-gesa, dan sebagainya. Untuk hal ini kita bisa belajar dari para pendahulu kita di medan yang sama, dari buku-buku mereka, dari cerita dan pengalaman mereka dan sebagainya.
       Kefahaman kita terhadap kondisi lapangan sama pentingnya dengan kefahaman kita dengan Islam dan Da'wah itu sendiri sehingga setiap kerja kita ada dasarnya, mantap dan bersemangat karena kita faham bukan sekedar ikut-ikutan.

2. Menyeluruh dan seimbang (proporsional)
       Militansi berarti memberikan porsi yang cukup dan seimbang dalam kerja kita. Hati kita bekerja merasakan penderitaan ummat, lisan kita sibuk mendo'akan mereka dan tangan kita selalu menyantuni saudara-saudara kita, tersenyum dihadapan mereka dan berubah tegas saat berhadapan dengan orang-orang kafir. Bukan sekedar kata tanpa makna dan ruh di dalamnya, bukan juga aksi tanpa strategi apalagi sampai lupa ngaji. Mana mungkin seorang ustadz mengajak untuk hidup zuhud sementara ia kemana-mana naik mobil mewah dan berumah tingkat.
       Militansi berarti seimbang. "Ashlih nafsaka wad'u li ghoirika," Begitu kata Ust. Mustafa Masyhur dalam bukunya Fiqh Da'wah I, Perbaiki dirimu dan serulah orang lain. Adalah tidak seimbang saat seorang aktivis sibuk menyelenggarakan kajian/pengajian, nyiapin snack, mencari pembicara, dan berakhir dengan nunggu parkir, akhirnya dia sendiri lupa mengkaji. Atau sebaliknya maunya mengkaji saja, maunya sholeh sendiri, maunya berkumpul dengan orang-orang baik (dari golongannya sendiri) terus, lalu bagaimana dengan nasib ummat yang masih jauh dari kebaikan, bukankah tugas kita untuk mendekatkan mereka. Seimbang, itu kuncinya. Sungguh lebih baik orang yang mau berbaur dengan masyarakat, bersabar terhadap tingkah laku mereka dan menyakiti kita daripada orang yang berdiam diri saja, begitu ungkap rasulullah.

3. Survive (bertahan)
       Mempertahankan kemenangan dan kesuksesan lebih sulit ketimbang mencetak kesuksesan itu sendiri. Setelah sesuatu mencapai puncaknya maka hanya ada satu jalan, yaitu turun. Tapi sungguh da'wah ini masih jauh dari puncaknya tapi mengapa banyak di antara aktivisnya yang mundur lebih dulu. Survive adalah kemampuan yang luar biasa untuk tetap berbuat walau dalam keadaan sulit, mampu kreatif walau dana sempit, mampu untuk tetap optimis walau rintangan menghimpit. Bersama dengan yang lain, kembali kita membangun harapan walau dalam celah yang sempit, selalu ada jalan untuk memenangkan agama ALLAH karena begitulah janji-Nya kepada para pejuang, pertolongan ALLAH dan kemenangan yang dekat.
        Sering di antara kita hanya bisa bertahan sebentar dalam membina sebuah bangunan (shoff) da'wah lalu kembali mundur seiring dengan cobaan dari ALLAH berupa kurang dana misalnya, atau kurang SDM yang ternyata kita sendiri belum bersungguh-sungguh dalam membina, kita merasa cukup menjadi orang 'luar', memberi nasehat, komentar, bahkan sama sekali belum pernah melihat peliknya bangunan itu dari dalam. Lalu kita merasa kelelahan dan bertanya mana hasilnya, muncul kekecewaan, suasana tidak nyaman, ingin keluar dari barisan, padahal kalau kita mau berfikir sekali lagi, sebenarnya banyak yang masih bisa kita lakukan tapi semua itu seolah tertutup hanya lantaran ego kita yang terlalu besar dan bayangan yang semakin redup akan masa depan ummat.

        Saudaraku sang pejuang ekonomi Islam, Ingatlah dakwah ekonomi Islam ini berkembang ditangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para ekonom robbani pembawa misi dakwah ekonomi Islam tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.
        Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita : “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”. (terinspirasi dari film sang murabbi)

        Dan tiada do'a kami selain ucapan : “Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Q. S. Ali Imron : 147)

Wallohu a'lam bishshowab.


Adhika Haryo Purwidyasukmo
Kordinator Regional FoSSEI Jawa Tengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar