Jumat, 27 Mei 2011

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Peluncuran Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI).
Jum’at, 27 Mei 2011 -  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, melakukan peluruncuran Program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI) 2011-2025 di JHCC, Senayan Jakarta. Acara peluncuran tersebut dihadiri oleh Kepala Lembaga Tinggi Negara, Pimpinan Partai Politik, Para Menteri/Kepala LPNK, Gubernur, Ketua DPRD Propinisi, Komite Ekonomi Nasiona, Komite Inovasi Nasional, Bupati/Walikota, Kedutaan dan Lembaga Internasional, Kamar Dagang Indonesia, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Dunia Usaha, BUMN, serta Universitas.
Dalam sambutannya, Presiden SBY menyampaikan ada lima penyakit yang membuat ekonomi Indonesia gagal dan  meminta kepada jajarannya agar kelima penyakit ini diberantas.  
  • Pertama adalah birokrasi yang menghambat dan tidak sejalan,  
  • Kedua adalah sikap Pemda yang mempunyai kepentingan sendiri dan cenderung menghambat jalannya perekonomian khususnya nanti MP3EI ini,  
  • Ketiga adalah pengusaha atau investor yang ingkar janji terhadap komitmen investasinya," kata SBY,  
  • Keempat adalah adanya regulasi yang menghambat jalannya perekonomian dan tidak segera diperbaiki, dan 
  • Kelima adalah adanya kepentingan dan proses politik yang tidak sehat.
Peluncuran MP3EI ditandai dengan dimulainya proyek-proyek groundbreaking yang pencanangannya akan dipusatkan pada empat lokasi, yaitu Sei Mangke Sumatera Utara, Cilegon Jawa Barat, Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat), dan Timika Papua.

MP3EI dirumuskan dengan semangat “Business as Not Usual”. Semangat ini tercermin dalam 3 hal, yaitu:
  1.  MP3EI mengedepankan terobosan Strategi dan kebijakan. Titik berat pendekatannya pada solusi, bukan pada pendekatan masalah yang dihadapi.
  2.  MP3EI menitikberatkan pada percepatan transformasi Ekonomi dengan pendekatan peningkatan value added, mendorong investasi, mengintegrasikan sektoral dan regional, serta memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya.  
  3. MP3EI mendengarkan masukan dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha dan pemerintah daerah.

MP3EI mempunyai 3 (tiga) strategi utama yang dioperasionalisasikan dalam inisiatif strategic. 
Strategi pertama adalah pengembangan potensi melalui 6 koridor ekonomi yang dilakukan dengan cara mendorong investasi BUMN, Swasta Nasional dan FDI dalam skala besar di 22 kegiatan ekonomi utama. Penyelesaian berbagai hambatan akan diarahkan pada kegiatan ekonomi utama sehingga diharapkan akan terjadi peningkatan realisasi investasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi di 6 koridor ekonomi.
Berdasarkan potensi yang ada, maka sebaran sektor fokus dan kegiatan utama di setiap koridor ekonomi, diantaranya sebagai berikut:

1. Sumatera :Kelapa Sawit, Karet, Batubara, Besi-Baja, JSS
2. Jawa :Industri Makanan Minuman, Tekstil, Permesinan, Transportasi,   Perkapalan, Alutsista, Telematika, Metropolitan Jadebotabek.
3. Kalimantan :Kelapa Sawit, Batubara, Alumina/Bauksit, Migas, Perkayuan, Besi-Baja
4. Sulawesi :Pertanian Pangan, Kakao, Perikanan, Nikel, Migas
5. Bali NT  :Pariwisata, Peternakan, Perikanan
6. Papua-Kep. Maluku :Food Estate, Tembaga, Peternakan, Perikanan, Migas, Nikel

Strategi kedua, memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi nasional untuk merevitalisasi kinerja sektor riil. Untuk itu akan ditetapkan jadwal penyelesaian masalah peraturan nasional dan infrastruktur utama nasional. Menurut laporan Menko Perekonomian, berdasarkan hasil diskusi dengan para pemangku kepentingan, khususnya dunia usaha, teridentifikasi sejumlah regulasi dan perijinan yang memerlukan debottlenecking yang meliputi:
  1. Mempercepat penyelesaian peraturan pelaksanaan undang-undang
  2. Menghilangkan tumpang tindih antar peraturan yang sudah ada baik ditingkat pusat dan daerah, maupun antara sektor/lembaga
  3. Merevisi atau menerbitkan peraturan yang sangat dibutuhkan untuk mendukung strategi MP3EI (seperti Bea keluar beberapa komoditi)
  4. Memberikan insentif kepada kegiatan-kegiatan utama yang sesuai dengan strategi MP3EI
  5. Mempercepat dan menyederhanakan proses serta memberikan kepastian perijinan
Adapun Elemen Utama dari Strategi Kedua adalah:
  1. Menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan utama untuk memaksimalkan pertumbuhan berdasarkan prinsip keterpaduan, bukan keseragaman.
  2. Memperluas pertumbuhan dengan menghubungkan daerah tertinggal dengan pusat pertumbuhan melalui inter-modal supply chain systems.
  3. Menghubungkan daerah terpencil dengan infrastruktur & pelayanan dasar dalam menyebarkan manfaat pembangunan secara luas. (Pertumbuhan yang inklusif)

Strategi ketiga, pengembangan Center of Excellence di setiap koridor ekonomi. Dalam hal ini akan didorong pengembangan SDM dan IPTEK sesuai kebutuhan peningkatan daya saing. Percepatan transformasi inovasi dalam ekonomi yang dilakukan melalui:
  1. Pengembangan modal manusia berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi secara terencana dan sistematis.
  2. Memasukkan unsur Sistem Inovasi Nasional (SINAS) dan berbagai upaya transformasi inovasi dalam kegiatan ekonomi.

Adapun Inisiatif Strategiknya adalah sebagai berikut:
  1. Revitalisasi Puspitek sebagai Science and Technology Park
  2. Pengembangan Industrial Park
  3. Pembentukan klaster inovasi daerah untuk pemerataan pertumbuhan
  4. Pengembangan industri strategis pendukung konektivitas
  5. Penguatan aktor inovasi (SDM dan Inovasi).

MP3EI diharapkan akan menjadi sebuah jalan bagi bangsa Indonesia untuk menjadi kekuatan utama dunia. Melalui 4 strategi utama yang kemudian dijabarkan dalam inisiatif strategik tersebut, kita berupaya menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia.

Sumber : http://www.ekon.go.id

Kamis, 26 Mei 2011

Ilustrasi Ekonomi Makro Sederhana

Mencoba mengilustrasikan model ekonomi makro dari bentuk yang paling sederhana sampai pada bentuk yang kompleks.

A.    Ekonomi Satu Pulau Satu Orang
Bayangkan perekonomian yang hanya terdiri dari satu orang yang tinggal di satu pulau.  Setiap hari ia memancing ikan untuk dimakan hari itu juga.  Sehingga sampai pada suatu hari, ia berpikir alangkah enaknya bila ia hari ini memancing berselang hari: sehari memancing, sehari libur.  Untuk itu ia harus memancing lebih banyak ikan dalam satu hari agar ia dapat menyimpan ikan untuk keesokan harinya.  Secara formal, kita dapat merumuskan keadaan ini sebagai berikut:

f (Nt) adalah fungsi produksi yang menggambarkan banyaknya output (ikan yang dipancing) ditentukan oleh tenaga kerja N (usaha yang dikerahkan untuk memancing ikan).  Karena ia tidak mempunyai sumber pendapatan lain, maka jumlah output (ikan yang didapat) sama dengan jumlah pendapatannya yaitu Yt.  Karena setiap hari ikan yang didapatnya (Yt) habis dimakan hari itu juga, maka Yt sama dengan konsumsinya yaitu Ct.




Grafik 2.1. .................................................

Bila ia menyimpan sebagian ikan tangkapannya:





Tidak seluruh tangkapannya ia makan hari itu juga, sebagian ia simpan sebesar St.  Simpanan ini yang akan ia makan keesokan harinya sebesar Ct+1.

Bila ia makan ikan simpanan itu keesokan harinya:
Semakin banyak ia bekerja, semakin banyak ikan yang ia tangkap, akan semakin besar simpanannya; tentu saja dengan asumsi bahwa ikan yang dinakan hari itu sama banyaknya yaitu Ct.  Di sisi lain, semakin banyak ia bekerja berarti semakin sedikit waktu istirahatnya pada hari itu.  Dengan adanya simpanan, ini juga berarti semakin banyak waktu istirahatnya di keesokan harinya (atau bahkan di hari-hari mendatang)[1].

B.     Ekonomi Satu Pulau Lima Orang
Sekarang bayangkanlah ada satu kapal tenggelam di tengah laut, semua penumpangnya meninggal atau hilang, kecuali empat orang  yang terdampar di pulau tersebut.  Jadi di pulau itu sekarang ada lima orang.  Orang pertama memiliki ikan hasil tangkapannya, orang kedua memiliki beras yang dibawanya dari kapal, orang ketiga memiliki kantong tidur (sleeping bag) yang  selalu dibawanya, orang keempat memiliki pisau kesayangannya, dan orang kelima memiliki radio kecil.
Untuk bertahan hidup, masing-masing orang memancing ikannya sendiri-sendiri.  Tentu saja orang pertama yang telah berpengalaman memancing ikan, selalu mendapat ikan yang lebih banyak, dan beristirahat keesokan harinya.  Bila ia ingin makan ikan bakar tanpa harus susah payah menyalakan api, maka ia meminjam pisau orang keempat dengan imbalan memberi sebagian ikan simpanannya.  Bila ia ingin makan ikan bakar sambil mendengarkan radio, ia meminjam radio dengan memberi imbalan ikan simpanannya kepada orang kelima.  Begitu seterusnya.  Tidak selamanya pertukaran itu berlangsung mulus, ada kalanya ia tidak ingin meminjam pisau sedangkan orang keempat sangat memerlukan ikan.  Atau ia sangat ingin beras, padahal orang kedua ingin berasnya ditukar dengan radio agar dapat berhubungan dengan dunia luar.  Bukan saja tidak mulus, bahkan juga diperlukan waktu yang cukup lama untuk mencari kecocokan apa yang akan ditukar dengan siapa.  Keadaan ini dalam ilmu ekonomi disebut double coincidence needs  yaitu pertukaran hanya dapat terjadi bila ada keinginan yang cocok antara kedua pihak.  

C.    Ekonomi Satu Pulau Lima Orang dan Uang dari Langit
Sekarang bayangkanlah, ada sebuah helicopter yang baru saja merampok bank. Untuk jejak, uang hasil rampokan tersebut dijatuhkan ke beberapa pulau sebagai tempat penyimpanan harta rampokan.  Uang yang dijatuhkan dari helicopter tersebut (helicopter money) diantaranya jatuh di pulau tempat kelima orang tadi, lebih tepatnya, jatuh tepat didepan orang pertama.  Katakan saja jumlah uangnya adalah M1 yaitu sebesar 1 juta rupiah.  Jadi sekarang telah terjadi perubahan jadi ekonomi tanpa uang (moneyless economy) menjadi ekonomi uang (money economy).
Orang pertama menawarkan kepada orang kedua, inginkah ia menukar berasnya dengan uang tersebut.  Orang kedua setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya.  Beralihlah uang tersebut kepada orang kedua. 
Orang kedua menawarkan kepada orang ketiga, inginkah ia menukar sleeping bag nya dengan uang tersebut.  Orang ketiga juga setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya.  Beralih pula uang tersebut kepada orang ketiga.
Orang ketiga menawarkan kepada orang keempat, inginkah ia menukar pisau miliknya dengan uang tersebut.  Orang keempat setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya.  Beralih lagi uang tersebut kepada orang keempat.
Orang keempat menawarkan kepada orang kelima, inginkah ia menukar radio miliknya dengan uang tersebut.  Orang kelima setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya.  Beralih lagi uang itu kepada orang kelima.
Orang kelima menawarkan kepada orang pertama, inginkah ia menukar ikan tangkapannya dengan uang tersebut.  Orang pertama setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya.  Beralih kembali uang itu kepada orang pertama.
Secara formal dikatakan bahwa jumlah uang yang beredar dalam ekonomi adalah M1 (money at time 1), berapa kali uang tersebut berpindah tangan adalah V1 (velocity of money at time 1), harga masing-masing barang yang dipertukarkan adalah P1 (price at time 1), dan jumlah barang yang dipertukarkan adalah T1 (goods being traded at time 1). Dalam contoh ini:
M1  =   Rp 1 juta
V1   =   5 kali
P1    =   Rp 1 juta
T1    =   5 (ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)

Bila transaksi ini dirumuskan dalam rumus matematik[2]:
                        M1 x V1            =     P1 x T1
                        Rp 1 juta x 5  =     Rp 1 juta x 5

Sekarang katakanlah, helicopter ini menjatuhkan lagi uang sejumlah Rp 2 juta, dan jatuh lagi tepat didepan orang pertama. Proses yang sama terjadi, orang pertama menawarkan uang tersebut kepada orang kedua untuk ditukar dengan beras.  Orang pertama setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya yaitu sejumlah Rp 3 juta (Rp 1 juta pertama dan Rp 2 juta kedua).  Uang tersebut beralih kepada orang kedua.  Dan begitu seterusnya sebagaimana telah terjadi sebelumnya.  Perbedaannya adalah jumlah uang beredar sekarang M2 jumlahnya Rp 3 juta.  Harga masing-masing barang pun sekarang berubah menjadi P2 yaitu Rp 3 juta. Secara formal dapat ditulis:
M=   Rp 3 juta
V2   =   5 kali
P2   =   Rp 3 juta
T2   =   5 (ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)

Bila transaksi ini dirumuskan dalam rumus matematik:
                        M2 x V2            =         P2 x T2
                        Rp 3 juta x 5  =         Rp 3 juta x 5

Jadi kenaikan jumlah uang beredar ternyata telah meningkatkan harga masing-masing barang.  Kenaikan harga-harga secara umum ini disebut inflasi.[3]
Dalam contoh ini juga terlihat bahwa perubahan aspek moneter yaitu jumlah uang yang beredar, ternyata tidak membawa perubahan apa-apa pada ekonomi riil.  Jumlah barang yang dipertukarkan dalam ekonomi tidak berubah.  Pendapatan nominal setiap kali menjual barang memang naik dari Rp 1 menjadi Rp 3 juta.  Namun kenaikan pendapatan nominal itu tidak meningkatkan daya beli uang, sehingga pendapatan riil tidak berubah.  Yang berubah adalah harga-harga barang.  Dalam ilmu ekonomi keadaan ini disebut sebagai money neutrality yaitu perubahan yang sifatnya ’once and for all’ atas jumlah uang beredar tidak mengubah variabel-variabel ekonomi sektor riil seperti pendapatan riil.  Secara formal neutrality of money didefinisikan sebagai[4]:

”The theoretical finding that once-and-for-all changes in the nominal quantity of money affect nominal variables such as the general price level but leave real variables such as real gross national product unaffected”

Bila perubahan jumlah uang yang beredar tidak hanya terjdi ’once and for all’, namun terjadinya berulang kali dengan pola dinamis, dan ternyata tetap tidak mengubah variable ekonomi sector riil disebut money superneutrality.  Secara formal superneutrality of money didefinisikan sebagai[5]:

“The theoretical finding that a change in the pattern over time of monetary growth does not affect real variables such as aggregate output and the real interest rate[6]

Ibnu Khaldun merumuskan supernuetrality of money ini sebagai berikut[7]:

“Kekayaan suatu negara tidak ditentukan oleh banyaknya uang yang dimilikinya.  Namun ia ditentukan oleh berapa besar kemampuan negara itu memproduksi barang dan jasa, serta efisiensi negara tersebut dalam memproduksi”

Hal ini disampaikan oleh Ibnu Khaldun untuk mengatasi kecenderungan ketika itu dimana Pemerintah seringkali melakukan ekspansi moneter dengan menambah jumlah fulus[8] di masyarakat.  Kekayaan Negara ditentukan oleh kapasitas produksinya (dalam ilmu mikro ekonomi disebut Production Possibility Frontier, dalam ekonomi makro disebut Full Capacity Economy), dan efisiensi produksinya (dalam ilmu ekonomi mikro Negara yang lebih efisien dalam memproduksi suatu jenis barang disebut memiliki keunggulan komparatif, dalam ilmu ekonomi makro Negara yang efisien dapat meng ekspor barangnya ke luar negeri, dan bila ekspornya lebih besar daripada impornya disebut memiliki surplus Neraca Perdagangan).

D.    Ekonomi Satu Pulau Lima Orang, Uang dari dari Langit, dan Raja
Sekarang bayangkanlah, orang pertama sebagai orang yang pertama kali ada dipulau itu dan paling berpengalaman menangkap ikan serta selalu saja uang dari helicopter jatuh di depan orang pertama, menjadi orang yang paling dominan dalam perekonomian pulau itu.  Demikian dominannya sehingga keempat orang lain sepakat menunjuk orang pertama menjadi pemimpin mereka.  Ini diperlukan untuk mengatur lokasi pemancingan masing-masing orang.  Jadi sekarang telah terjadi perubahan dari perekonomian tanpa pemerintah menjadi perekonomian dengan pemerintah dimana orang pertama menjadi rajanya.
Ada dua perubahan penting dalam perekonomian pulau itu dengan ditunjuknya orang pertama sebagai raja, yaitu:

1.      Adanya Kepemimpinan
Menurut kesepakatan di pulau itu, orang pertama mempunyai hak untuk mengatur agar kegiatan ekonomi berjalan dengan adil yaitu memastikan tidak ada satu pihakpun yang terzalimi.[9]  Hal ini dianggap penting karena suatu hari ketika orang keempat menukar uangnya dengan radio milik orang kelima, ternyata orang kelima berbuat curang dengan menahan batere radio tersebut.  Orang kelima berdalih bahwa yang ia tukarkan adalah radio, tidak termasuk batere.  Sehingga terjadi keributan.

2.      Adanya efektifitas kepemimpinan
Keadaan objektif yang membuat kepemimpinan orang pertama dapat berjalan efektif adalah ia mempunyai kekuatan ekonomi yang paling besar.[10]  Ia menjadi pembeli terbesar karena dengan tangkapan ikan dan uang dari helicopternya, ia memiliki daya beli besar (purchasing power) untuk dapat menukar dengan barang-barang milik orang lainnya.  Ia juga menjadi penjual terbesar karena sumberdaya awal (initial endowment) yang dimilikinya berupa ikan tangkapan dan uang dari helicopter.  Kefektifan kepemimpinan ini penting karena sebelumnya orang kedua berusaha menjadi pemimpin dengan beras yang dimilikinya sebagai modal kekuatan ekonominya.  Orang kedua berpikir karena semua orang pasti memerlukan beras, maka sumberdaya yang dimilikinya menjadi faktor paling strategis untuk menjadi pemimpin.  Namun ternyata ketiga orang lainnya makan ”daging” kelapa muda belajar dari orang pertama bagaimana mengatasi ketiadaan beras di pulau itu.

Dampak adanya kepemimpinan:
Ditunjuknya orang pertama sebagai pemimpin menimbulkan implikasi baru.  Jasa yang diberikannya untuk memastikan mekanisme pasar berjalan secara adil merupakan kenikmatan yang diperoleh oleh orang-orang pulau itu.  Untuk itulah mereka bersedia memberikan kompensasi kepada orang pertama penghargaan berupa uang atau barang.  Uang penghargaan inilah yang kemudian dikenal sebagai pajak.  Bahkan keempat orang itu bersedia membayar pajak lebih banyak bila digunakan untuk menyediakan hal-hal yang berguna bagi mereka, misalnya untuk memasang obor di pelosok pulau sehingga mobilitas mereka di malam hari menjadi lebih mudah.

Dampak adanya efektifitas kepemimpinan:
Kekuatan ekonomi yang dimiliki orang pertama menimbulkan implikasi baru. Transaksi di pulau menjadi lebih efisien lagi.  Orang-orang selain orang pertama, kini dapat menjual miliknya kepada orang pertama.  Selanjutnya bila mereka memerlukan sesuatu, mereka dapat memperolehnya dari orang pertama.  Orang pertama telah berubah menjadi seorang produsen, konsumen, sekaligus seorang pedagang.  Sebagai seorang pedagang, ia membeli barang untuk menjualnya lagi.  Bila orang kedua ingin menukar sesuatu, ia mendatangi orang pertama, menjual berasnya, mendapat bayaran uang, kemudian dengan uangnya itu ia membeli sleeping bag atau pisau, atau radio dari persediaan yang dimiliki orang pertama.  Begitu pula dengan orang ketiga dan seterusnya.  Mereka membawa barang yang mereka miliki, menjualnya pada orang pertama, kemudian membeli barang yang mereka perlukan dari orang pertama.


E.     Ekonomi Banyak Pulau, Banyak Orang, Banyak Uang, Banyak Raja
Kini saatnya masuk pada keadaan yang mendekati perekonomian yang sebenarnya. 

(Bersambung....... wait yo...)

[1] Untuk tetap focus pada bahasan Y = C + S, maka bahasan bagaimana mengalokasikan waktu bekerja dan waktu istirahat tidak diuraikan lebih lanjut.  Secara formal fungsi utilitas ditulis sebagai:
 Ut = U (Ct, Nt)
              (+) (-)
Penjelasan rinci lihat Robert J Barro (1990), Macroeconomics 3rd Ed. Bab 2, New York: John Wiley.
[2] Persamaan ini dikenal sebagai Fisher Equation karena diperkenalkan oleh Irving Fisher
[3] Fenomena ini dirumuskan oleh Milton Freidman dalam kalimatnya yang terkenal, “Inflation is just a monetary phenomenon”
[4] Robert J Barro (1990), Macroeconomics 3rd Ed, New York: John Wiley, halaman 562
[5] Op.Cit, halaman 565
[6] Penggunaan real interest rate, bahkan juga nominal interest rate, tidak penting sama sekali dalam suatu perekonomian.  Ia memang dapat digunakan sebagai proxy (ukuran pendekatan) terhadap return on investment.  Pembahasan hal ini dalam konteks ekonomi makro islami akan dijelaskan pada akhir bab ini.
[7] Adiwarman Karim (2004), Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Bab 4, Edisi 2, Jakarta: Rajawali Press
[8] Fulus adalah uang yang terbuat dari tembaga.  Dalam perkembangannya fulus juga didefinisikan sebagai uang yang tidak terbuat atau dikaitakn nilainya dengan emas atau perak.
[9] Dalam fikih salah satu tugas pemerintah adalah “haqqal ghairu muhafazun ‘alaihi syar’an” (memberi hak kepada penjual dan pembeli menentukan harga sekaligus melindungi keduanya)
[10] Menurut Ibnu Khaldun, pemerintah adalah ibu segala pasar artinya ia adalah pembeli besar dan penjaul besar.  Lihat Adiwarman Karim (20..), Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Edisi 2, Jakarta: Rajawali Press


(sumber : National Training for Tentor (NTT ) Temilnas FoSSEI 2009 di Universitas Udayana Bali)

Senin, 23 Mei 2011

Tausyiah

Salah satu keindahan hidup ini adalah saat kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan..
selalu ada harapan , penantiaan , senyum dan luka.. tak tercapainya sesuatu adalah simpangan yang membuat kita menoleh pada yang lain.. bukan saja pada realita yang nyata, tapi juga Allah sedang mengajak kita berfikir dengan caraNYA.. hingga kita akan memilih, berfikir keras dan selalu berusaha / bangga dengan keterbatasan diri.. mungkin doa kita tidak dikabulkan sekarang, tp nanti suatu saat yang pas, yang lebih indah dan tepat.. Sungguh semua skenario Allah adalah kebaikan..
membeningkan hati, menjernihkan fikiran, tetap optimis dg masa depan.. *Semoga bisa menjadi sumber inspirasi..^^

Jumat, 20 Mei 2011

Ekonomi Islam mau kemana?

Di sebuah  pesantren yang terletak di pinggiran kota Yogyakarta, kyai Fulan berdialog 3 santrinya.
Kyai  Fulan : Apa yang kau ketahui bagaimana memperjuangkan agama Allah dalam ekonomi….
Santri 1 : Kita boikot, sabotase, blokade….. produk-produk Barat, Kyai….
Santri 2 : Kita tutup perusahaan milik orang Barat itu, biar hanya ada pabrik orang Islam  di negeri kita ini….
Santri 3 : Kalau Kyai mengijinkan saya akan kerahkan seratus, seribu atau berjuta manusia  untuk menganyang produk orang-orang Barat itu...
Kyai Fulan :Mengapa kau selalu menghubungkan perjuangan ekonomi Islam dengan bagaimana  menghancurkan ekonomi Barat.
Santri 2 : Barat itu kafir, Kyai ....tidak bertuhan…
Kyai Fulan : Siapa bilang dia tidak bertuhan, cuma kenyataan hidup memaksanya untuk tidak mengakui keberadaan Tuhan
Santri 3 : Ekonomi mereka tidak berketuhanan, Tad
Kyai Fulan : Weleeh… istilah apa lagi kamu ini…..bagaimana kau mendefinisikan ekonomi Barat tidak berketuhanan… sedangkan kehidupan mereka lebih maju dibanding kita….jangan kau memaksa logikamu untuk mengatakan karena kita bertuhan ekonomi kita jadi begini….
Santri 2 :Walaupun mereka maju mereka tidak masuk sorga....
Kyai Kyai Fulan :Logika dari mana lagi ini….pernyataanmu menunjukkan permakluman atas keadaan dirimu bahwa kau tidak bisa maju karena itu imbalan Tuhan atas keinginanmu masuk sorga….sama artinya kau salahkan Tuhan atas keadaanmu ini…
Santri 1 :Loh terus gimana…kita yang sholat setiap hari lima kali…. kita puasa setiap bulan ramadhan…. kita juga bayar zakat, infaq, shadaqah…dan orang Barat tidak mengenal itu …tetapi mereka lebih maju….apa sebenarnya Allah itu melihat apa yang kita kerjakan ….
Santri 2 : Iya kita bangun subuh mereka masih tidur… kita puasa mereka enak-enakan makan pizza…. kita memberikan zakat kepada orang miskin mungkin mereka enak-enakkan hidup di apartemen pribadi menikmati sofanya yang empuk…..koq mereka lebih maju dari kita…. Allah tidak adil, Kyai ….
Santri 1 :Sebenarnya bagaimana sih Kyai , Allah menata kehidupan ini, yang jauh dari  Allah diberi kemajuan dan kita yang selalu mendekatinya diberi  kemiskinan….Allah seolah-olah tidak peduli dengan kita ….
Kyai Fulan :Mengapa kalau aku bicara ekonomi Islam kalian semua selalu hubungkan dengan Barat…sedangkan kau membantah mentah-mentah dominasi Barat dalam hidupmu…. tetapi di lain pihak kemajuan pemikiran Barat telah mempengaruhi alasanmu untuk maju ….  Barat telah menjadi tirani dalam hidupmu sehingga jalan pemikirannya menjadi dasar bagi alasanmu untuk membuat teori-teori baru ….
Santri 3 : Apa itu salah, Kyai….
Kyai Fulan :Bagaimana mana kau bisa meningkatkan kemajuan ekonomi Islam kalau kau sendiri disibukkan untuk selalu mengatasi teori mereka…. sedangkan teori kita di bangun dengan assumsi yang berbeda. Bagaimana kau sempat berpikir membangun teorimu sendiri kalau kau mengunakan asumsi orang lain untuk membangun teori yang kau bangun….kau bisa membangun teori baru pun tidak ada manfaatnya bagi kemajuanmu…karena asumsi yang dibangunnya bukan berasal dari kehidupanmu. .
Santri 1 :Kyai, kita tidak maju-maju mungkin karena ini laknat Allah kepada kita ….kita sudah berdoa…tetapi masih ada bencana di mana-mana…
Kyai Fulan :Barat yang banyak melakukan maksiat lebih maju dari kita… tidak dimusnahkan  Allah….kalau Amerika bisa mendeteksi dengan teknologi kemungkinan adanya bencana angin topan seminggu sebelumnya sehingga tidak banyak korban yang mati karena orang-orang telah diungsikan….. demikian juga Jepang mampu mengatasi banyaknya korban gempa karena dengan teknologi yang mereka kuasai dia bisa membangun rumah yang kuat dan dan menyediakan infrastruktur guna melindungi mereka dari gempa yang sering datang di negerinya … apakah Allah memberikan berkah bagi Amerika dan Jepang karena korban bencana dari kedua negara tersebut bisa dibatasi….sedangkan mereka hanya mengandalkan teknologi yang mereka temukan untuk memenuhi kebutuhan atas masalah hidupnya …..apa kau masih menyimpulkan bahwa Allah melaknat kita…
Santri 1, 2, 3 : …………………..
Kyai Fulan : …..Sedangkan sikap beberapa saudara-saudaramu terhadap bencana adalah dengan kau tanam keris ruwat bumi di depan pintu pagar bambu ….. kau sampirkan janur kuning di pagar pekaranganmu… .. dan kau sempat jampi-jampi kembang tujuh rupa sebagai penghindar bala di atas pintu ….bagaimana gempa tidak meluluh latahkan rumahmu….. bagaimana banjir tidak menghanyutkan hartamu…. Bagaiman kecelakaan tidak selalu menghantui hidupmu….dan setelah itu kau tuduh Allah melaknatmu….karena kau telah menyalahi sunatullah…. Kau telah pahami kehadiran Allah sekedar pada cobaan dan laknat tidak pada usaha mensikapi keadaan hidupmu…mengapa kau tidak gunakan pemikiranmu untuk menemukan sesuatu…. untuk mengatasi masalah-masalahmu yang selalu menimpa kamu…..kau harus mengeser pemahaman teologi mu…
Santri 1 :Mmmmm….sebenarnya bagaimana memahami kemajuan,
Kyai Kyai Fulan :Ditemukannya terompong, kompos, kertas dan lain sebagainya oleh orang Islam di abad pertengahan adalah dampak dari usaha dalam mengatasi kesulitan-kesulitan hidup mereka…mereka menemukan itu karena kebutuhan mereka atas-atas alat tesebut dalam mempertahankan hidupnya….mereka menemukan itu tidak dasarkan atas persaingannya dengan Negara-negara non Islam….tetapi di karenakan kebutuhan  umat Islam ….sekarang kau lihat apakah yang akan kau temukan atau setidaknya  kau pikirkan atas berbagai teori ekonomi dalam rangka memenuhi kebutuhan  rakyat?….
Santri 1, 2, 3: …………………
Kyai Fulan: …..Apakah kau masih berpikir menghancurkan teori Barat sedangkan kebutuhanmu  bagaimana membuka lapangan kerja bagi rakyat yang kemiskinan tidak pernah kau pikirkan walaupun sesaat…….. apakah kau masih berpikir untuk menyandera hidupmu  dalam dominasi untuk melawan teori Barat pada waktu yang sama sekolah-sekolah  yang kau dirikan untuk masyarakat, kau tarik SPP yang membuat masyarakat  semakin sekarat ……apakah kau masih disibukkan melumpuhkan teori Barat sedangkan  yang dihadapanmu masyarakat kesulitan mendapatkan rumah sakit yang murah untuk mengobati sakit panasnya yang setiap saat selalu kumat…apakah kau masih menyisakan waktumu untuk menghina teori Barat sedangkan kebutuhan masyarakat akan rumah yang layak masih hanya pada mimpi-mimpi disaat penat..….sedangkan  teori-teori Barat yang kau musuhi itu telah menyediakan pekerjaan, SPP sekolah yang murah, biaya kesehatan yang rendah, dan rumah yang layak bagi orang  Barat….sebenarnya apa sih yang kau musuhi…. kalau teori ekonomi Islam yang ingin kau temukan jauh dari  upaya memenuhi kebutuhan masyarakat….apakah ini cara berpikir ekonomi Islami  yang maksud itu…?
Santri 2 :Tetapi sumber daya kita butuhkan terbatas… Kyai
Kyai Fulan :Secara tidak langsung kau mengatakan Allah tidak bertanggung jawab …karena kau menganggap Allah tidak tepat mengukur kebutuhan yang Dia ciptakan untuk manusia di bumi ini…..selanjutnya kau bilang dalam bahasa ekonomimu "kelangkaan"… kau mengukur sumber daya menurut yang kau inginkan, sedangkan Allah menciptakan sumber daya yang kau butuhkan….Allah menciptakan itu supaya tidak menimbulkan kerusakan… sedangkan kau menginginkan sumber daya karena ini nafsumu bisa terpuaskan….sumber daya di bumi ini melimpah…tidak mungkin Allah menciptakan sumber daya dengan sia-sia semua pasti ada manfaatnya…walaupun sebutir pasir….walaupun setetes embun ….walaupun selembar daun….walaupun seuntai akar…pasti ada manfaatnya….. walaupun seekor nyamuk....seekor walang…..seekor  coro semua ada manfaatnya ….bagi manusia….tetapi kau tidak gunakan potensi akal yang diberikan Allah untuk mengelolanya… dan kau anggap bahwa Allah sebagai pembantumu…Ia menciptakan segalanya kebutuhanmu langsung di depanmu ….dan kau  pikir Allah menciptakan segala sesuatu tidak melalui proses-proses tertentu…. sesungguhnya hal itu bisa mengantarkanmu untuk mengetahui hakekat mengapa Allah  menciptakanmu… ..
 Santri 1, 2, 3:………………………..
Wallahu alam

* Semoga sebuah dialog imajiner kiriman dari Bapak Heri Sudarsono, SE., M.Ec. ini dapat kita jadikan sebagai bahan evaluasi kita semua...

Kamis, 19 Mei 2011

Pejuang Ekonomi Islam

Assalamua'laikum wr. wb.

Apa kabar ekonom robbani hari ini?
“ Alhamdulillah.. Luarbiasa.. Dasyat.. AllahuAkbar!!”

          Sebagai sarana perjuangan da’wah ekonomi Islam, KSEI-KSEI yang ada di FoSSEI Regional Jawa Tengah mempunyai peran penting dalam pengembangan ekonomi Islam di dunia maupun Indonesia, khususnya wilayah Jawa Tengah. Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia sudah mulai terlihat jelas. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya lembaga-lembaga baru yang berbasis syariah, seperti Perbankan syariah, BMT, Asuransi syariah, dan Pasar modal syariah. Dari segi regulasi, kita dapat melihat peraturan perundang-undangan baru yang mengatur tentang lembaga syariah sudah semakin banyak. Sehingga tidak salah jika saya mengatakan bahwa tidak lama lagi sistem ekonomi Indonesia akan berubah menjadi harapan kita semua yaitu sistem ekonomi Islam. Hal ini merupakan sebuah tantangan dan peluang bagi FoSSEI Regional Jawa Tengah sebagai salah satu simpul – simpul kekuatan da’wah yang menyebar ke seluruh pelosok nusantara, sebagai satu kekuatan dari Regional FoSSEI yang tersebar di Indonesia.

          Namun demikian, impian besar ini tidak akan terwujud tanpa dukungan dari semua pihak, terutama kader-kader yang tersebar di jawa tengah maupun seluruh Indonesia. Diperlukan konsistensi atau keistiqomah-an kader dalam mewujudkan tegaknya ekonomi Islam di negeri ini. Oleh karena itu saudaraku sang pejuang ekonomi Islam, dalam perjuangan dakwah haruslah memiliki semangat militansi yang tinggi. Dan didalam artikel anomim yang berjudul "sebuah catatan tentang militansi" menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan tentang makna militansi ini.

1. Kefahaman
        Kefahaman yang kita maksud adalah kefahaman terhadap sebuah situasi, lingkungan da'wah kita, target-target kerja (da'wah) kita, perubahan yang ingin kita capai, peluang-peluang yang ada, siapa pendukung dan siapa lawan kita, dan aspek lapangan yang lain. Yang kedua adalah kefahaman kita terhadap ISLAM dan Da'wah itu sendiri. Bagaimana mungkin kita berjuang untuk sesuatu yang kita tidak mengerti. Kita perlu faham dengan karakteristik kerja da'wah, tidak tergesa-gesa, dan sebagainya. Untuk hal ini kita bisa belajar dari para pendahulu kita di medan yang sama, dari buku-buku mereka, dari cerita dan pengalaman mereka dan sebagainya.
       Kefahaman kita terhadap kondisi lapangan sama pentingnya dengan kefahaman kita dengan Islam dan Da'wah itu sendiri sehingga setiap kerja kita ada dasarnya, mantap dan bersemangat karena kita faham bukan sekedar ikut-ikutan.

2. Menyeluruh dan seimbang (proporsional)
       Militansi berarti memberikan porsi yang cukup dan seimbang dalam kerja kita. Hati kita bekerja merasakan penderitaan ummat, lisan kita sibuk mendo'akan mereka dan tangan kita selalu menyantuni saudara-saudara kita, tersenyum dihadapan mereka dan berubah tegas saat berhadapan dengan orang-orang kafir. Bukan sekedar kata tanpa makna dan ruh di dalamnya, bukan juga aksi tanpa strategi apalagi sampai lupa ngaji. Mana mungkin seorang ustadz mengajak untuk hidup zuhud sementara ia kemana-mana naik mobil mewah dan berumah tingkat.
       Militansi berarti seimbang. "Ashlih nafsaka wad'u li ghoirika," Begitu kata Ust. Mustafa Masyhur dalam bukunya Fiqh Da'wah I, Perbaiki dirimu dan serulah orang lain. Adalah tidak seimbang saat seorang aktivis sibuk menyelenggarakan kajian/pengajian, nyiapin snack, mencari pembicara, dan berakhir dengan nunggu parkir, akhirnya dia sendiri lupa mengkaji. Atau sebaliknya maunya mengkaji saja, maunya sholeh sendiri, maunya berkumpul dengan orang-orang baik (dari golongannya sendiri) terus, lalu bagaimana dengan nasib ummat yang masih jauh dari kebaikan, bukankah tugas kita untuk mendekatkan mereka. Seimbang, itu kuncinya. Sungguh lebih baik orang yang mau berbaur dengan masyarakat, bersabar terhadap tingkah laku mereka dan menyakiti kita daripada orang yang berdiam diri saja, begitu ungkap rasulullah.

3. Survive (bertahan)
       Mempertahankan kemenangan dan kesuksesan lebih sulit ketimbang mencetak kesuksesan itu sendiri. Setelah sesuatu mencapai puncaknya maka hanya ada satu jalan, yaitu turun. Tapi sungguh da'wah ini masih jauh dari puncaknya tapi mengapa banyak di antara aktivisnya yang mundur lebih dulu. Survive adalah kemampuan yang luar biasa untuk tetap berbuat walau dalam keadaan sulit, mampu kreatif walau dana sempit, mampu untuk tetap optimis walau rintangan menghimpit. Bersama dengan yang lain, kembali kita membangun harapan walau dalam celah yang sempit, selalu ada jalan untuk memenangkan agama ALLAH karena begitulah janji-Nya kepada para pejuang, pertolongan ALLAH dan kemenangan yang dekat.
        Sering di antara kita hanya bisa bertahan sebentar dalam membina sebuah bangunan (shoff) da'wah lalu kembali mundur seiring dengan cobaan dari ALLAH berupa kurang dana misalnya, atau kurang SDM yang ternyata kita sendiri belum bersungguh-sungguh dalam membina, kita merasa cukup menjadi orang 'luar', memberi nasehat, komentar, bahkan sama sekali belum pernah melihat peliknya bangunan itu dari dalam. Lalu kita merasa kelelahan dan bertanya mana hasilnya, muncul kekecewaan, suasana tidak nyaman, ingin keluar dari barisan, padahal kalau kita mau berfikir sekali lagi, sebenarnya banyak yang masih bisa kita lakukan tapi semua itu seolah tertutup hanya lantaran ego kita yang terlalu besar dan bayangan yang semakin redup akan masa depan ummat.

        Saudaraku sang pejuang ekonomi Islam, Ingatlah dakwah ekonomi Islam ini berkembang ditangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para ekonom robbani pembawa misi dakwah ekonomi Islam tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.
        Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita : “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”. (terinspirasi dari film sang murabbi)

        Dan tiada do'a kami selain ucapan : “Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Q. S. Ali Imron : 147)

Wallohu a'lam bishshowab.


Adhika Haryo Purwidyasukmo
Kordinator Regional FoSSEI Jawa Tengah